DetikPulsa – Pasien Pertama di Dunia yang Operasi Dibantu AI, Dunia medis kembali mencatat terobosan penting melalui pemanfaatan kecerdasan buatan dalam prosedur bedah otak. Rhys Hibbert, pria berusia 48 tahun asal Bedfordshire, Inggris, menjadi pasien pertama di dunia yang menjalani operasi pengangkatan tumor otak dengan bantuan teknologi artificial intelligence (AI) secara langsung atau real-time.

Pria 48 ini Jadi Pasien Pertama di Dunia yang Operasi Dibantu AI
Prosedur bersejarah tersebut dilakukan oleh tim ahli bedah saraf di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN), bagian dari University College London Hospitals (UCLH).
Menurut informasi dari NHS, dokter menggunakan sistem AI yang mampu memetakan struktur otak dengan tingkat ketelitian tinggi. Teknologi tersebut memanfaatkan sistem pewarnaan atau color coding untuk membantu membedakan jaringan tumor dari bagian otak yang memiliki fungsi vital.

Bantuan Teknologi ‘Color Coding’ AI
Sebelum digunakan dalam prosedur medis, teknologi tersebut masih terbatas pada kebutuhan penelitian dan simulasi. Namun, pada Mei 2026, sistem tersebut mulai diterapkan langsung pada pasien untuk membantu pengangkatan tumor di kelenjar pituitari Hibbert.
Cara kerjanya adalah menampilkan peta anatomi otak dalam berbagai warna pada monitor selama operasi berlangsung. Jaringan saraf, misalnya, ditandai dengan warna hijau, sedangkan jaringan ikat ditampilkan menggunakan warna turquoise.
Pemetaan digital tersebut memberikan panduan visual secara langsung kepada dokter. Dengan bantuan informasi tersebut, ahli bedah dapat mengetahui bagian yang relatif aman untuk ditangani sekaligus menghindari struktur penting yang berisiko mengalami kerusakan.
Hibbert telah didiagnosis menderita tumor otak sejak 2024. Ia mengatakan keberhasilan prosedur tersebut membuatnya sangat bersyukur karena operasi membantu mempertahankan penglihatannya yang sebelumnya terancam mengalami gangguan serius.
“Saya merasa sangat terhormat telah diminta menjadi pasien pertama di dunia dalam riset ini,” ujar Hibbert.
Ia juga menilai penggunaan teknologi tersebut memiliki nilai sejarah tersendiri mengingat NHNN memiliki hubungan panjang dengan perkembangan bedah saraf.
AI Dilatih Menggunakan Ratusan Rekaman Operasi
Sistem kecerdasan buatan tersebut dikembangkan secara internal oleh UCL Hawkes Institute. Para peneliti melatih perangkat lunak menggunakan ratusan rekaman video dari operasi otak nyata agar mampu mengenali struktur anatomi berukuran sangat kecil.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam prosedur bedah saraf karena dokter harus bekerja dengan tingkat ketelitian tinggi untuk mengangkat jaringan yang bermasalah tanpa merusak bagian otak yang sehat.
Profesor Hani Marcus, konsultan ahli bedah saraf yang memimpin prosedur tersebut, menyampaikan apresiasi kepada Hibbert dan seluruh tim yang terlibat dalam pengembangan teknologi.
Menurutnya, keberanian pasien serta kerja sama antara tenaga medis dan peneliti menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien melalui pemanfaatan teknologi AI.
Penggunaan AI sebagai panduan visual selama operasi kini terus dikembangkan. Teknologi pemetaan anatomi berbasis kecerdasan buatan juga berpotensi diterapkan pada berbagai prosedur bedah lain untuk membantu dokter mengidentifikasi organ, pembuluh darah, serta jaringan saraf penting dengan lebih akurat.
Meski demikian, teknologi tersebut masih membutuhkan penelitian dan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya sebelum digunakan secara lebih luas dalam praktik medis.






