DetikPulsa – Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Situasi di kawasan Teluk kembali memanas setelah Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran pada Jumat (17/4), hanya sehari setelah sempat dinyatakan dibuka.

Resmi Dibuka 1 Hari, Iran Tutup Kembali Selat Hormuz
Langkah ini diambil sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat yang masih mempertahankan blokade di area perairan tersebut, sebagaimana dilaporkan AFP.
Sebelumnya, Teheran telah memberi peringatan bahwa jalur vital itu akan kembali ditutup apabila tekanan terhadap pelabuhan mereka tidak dihentikan.
Pemerintah Iran sempat mengumumkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut pada pekan lalu. Namun, kondisi di lapangan tidak berubah karena blokade dari pihak AS tetap berlangsung.
Hal ini mendorong otoritas Iran mengambil keputusan tegas untuk menutup kembali akses tersebut sebagai bentuk tekanan diplomatik dan militer.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa keberlanjutan akses di Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada sikap Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa jika pembatasan terhadap pelabuhan Iran terus diberlakukan, maka jalur tersebut tidak akan dibiarkan terbuka.

Pernyataan itu disampaikan melalui platform X dan menegaskan posisi keras Teheran dalam menghadapi situasi ini.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade maritim terhadap Iran pada Senin (13/4), dengan menghentikan pergerakan kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan negara tersebut.
Kebijakan itu memperburuk hubungan kedua negara dan memperbesar potensi eskalasi konflik di kawasan yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Militer AS Akan Buru Kapal-kapal Tanker Iran di Dekat RI
Militer Amerika Serikat disebut tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk memburu kapal-kapal yang terkait dengan Iran di berbagai perairan, termasuk kawasan dekat Asia Tenggara.
Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menyampaikan bahwa upaya pencegatan kemungkinan akan difokuskan di jalur strategis seperti Selat Malaka, yang menjadi salah satu rute utama menuju kawasan Indo-Pasifik.

Berdasarkan laporan Lloyd’s List yang dikutip, wilayah Pasifik—terutama di sekitar Selat Malaka—menjadi pusat aktivitas kapal tanker “gelap” yang membawa minyak dari negara yang dikenai sanksi, termasuk Iran.
Kehadiran armada tersebut mendorong AS meningkatkan pengawasan serta operasi maritim guna membatasi distribusi energi ilegal dari kawasan tersebut.
Caine menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan berbagai langkah pengawasan di Area Tanggung Jawab Pasifik, termasuk tindakan pencegahan terhadap kapal yang meninggalkan wilayah konflik sebelum kebijakan blokade diberlakukan.
Operasi ini menunjukkan perluasan strategi Washington yang kini tidak lagi terbatas di Timur Tengah, melainkan menjangkau jalur pelayaran global.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh analis dari organisasi United Against Nuclear Iran, Charlie Brown, yang menilai langkah ini membuka kemungkinan operasi serupa di wilayah lain seperti Venezuela.
Ia mencontohkan bahwa sebelumnya AS pernah mencegat kapal tanker yang terkena sanksi jauh dari kawasan asalnya, termasuk di Samudra Hindia, guna memanfaatkan ruang gerak operasional yang lebih luas.
Di sisi lain, pergerakan militer AS juga terlihat dari mobilisasi kapal perang seperti USS Miguel Keith yang dilaporkan menuju Selat Malaka setelah berangkat dari Jepang.
Kehadiran kapal ini menandai kesiapan Washington untuk meningkatkan tekanan di jalur perdagangan energi global, sekaligus memperbesar potensi eskalasi ketegangan di kawasan strategis tersebut.







