DetikPulsa – Festival Songkran 2026 di Thailand, Perayaan Songkran yang dikenal sebagai festival perang air terbesar di dunia kembali diwarnai kabar duka. Dalam empat hari pertama penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 154 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di berbagai wilayah Thailand.
Festival Songkran 2026 di Thailand Memakan Korban 154 Orang Tewas
Berdasarkan laporan Bangkok Post, periode 10 hingga 13 April mencatat 755 insiden kecelakaan dengan total 705 korban luka. Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya mobilitas selama perayaan masih menjadi faktor risiko utama di jalan raya.
Wilayah Bangkok menjadi daerah dengan jumlah korban meninggal tertinggi, yakni mencapai 12 orang. Kepadatan kendaraan, lonjakan wisatawan, serta arus mudik masyarakat dinilai memperparah potensi kecelakaan di ibu kota.

Sementara itu, laporan dari Nation Thailand mengungkapkan bahwa penyebab dominan kecelakaan adalah kecepatan berlebih, diikuti oleh kebiasaan berkendara dalam kondisi terpengaruh alkohol. Kedua faktor tersebut kerap menjadi pemicu utama insiden fatal selama musim liburan.
Menanggapi situasi ini, pemerintah setempat mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan di berbagai titik rawan.
Aparat di Bangkok diminta meningkatkan penegakan hukum, khususnya di kawasan wisata dan lokasi perayaan yang ramai aktivitas penyiraman air.
Selain itu, upaya pencegahan juga difokuskan pada pengendalian konsumsi minuman beralkohol.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2779247/original/040963400_1555319698-20190415-Songkran-2.jpg)
Regulasi diperketat, termasuk pelarangan penjualan kepada individu berusia di bawah 20 tahun serta peningkatan pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran.
Perayaan Songkran 2026 sendiri secara resmi dimulai pada Senin, meskipun lonjakan pengunjung sudah terlihat sejak 10 April. Festival ini berlangsung hampir satu pekan dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di balik popularitasnya, Songkran juga dikenal dengan sebutan “tujuh hari berbahaya,” istilah yang diperkenalkan pemerintah sekitar satu dekade lalu untuk menggambarkan tingginya angka kecelakaan selama periode tersebut.
Sebagai perbandingan, perayaan tahun sebelumnya mencatat korban jiwa hingga 253 orang. Fakta ini kembali menegaskan bahwa di tengah kemeriahan festival, aspek keselamatan lalu lintas masih menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian serius.







