DetikPulsa – Trump Kirim 1 Kapal Induk, Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perang pendamping ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan akibat gelombang demonstrasi di Iran.

Trump Kirim 1 Kapal Induk Langsung ke Timur Tengah
Mengutip laporan New York Times, armada tersebut saat ini berlayar dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk tiba di wilayah tujuan.
Tak hanya kekuatan laut, AS juga disebut akan mengirimkan tambahan kekuatan udara. Sejumlah pesawat tempur, termasuk jet tempur, pesawat serang, serta pesawat pengisian bahan bakar di udara, diperkirakan akan dikerahkan untuk menggantikan unit yang sudah lebih dulu bertugas di Timur Tengah. Masa penugasan pesawat-pesawat ini dapat diperpanjang, bergantung pada perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut.
Dua pejabat Amerika Serikat yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa langkah ini diambil untuk keperluan pembahasan dan kesiapan operasional. Mereka menilai situasi di Iran berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka.

Jika Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran, para pemimpin Teheran diyakini akan melakukan aksi balasan. Atas dasar itu, Pentagon mulai menambah perlengkapan pertahanan udara, termasuk pengiriman rudal pencegat untuk melindungi pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Kedua pejabat tersebut menjelaskan bahwa peningkatan kekuatan militer ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi aset Amerika, tetapi juga sebagai upaya menekan Iran agar tidak melakukan kekerasan lebih lanjut terhadap para demonstran. Selain itu, langkah ini dinilai memberi Presiden Donald Trump lebih banyak pilihan dalam menyusun skenario respons militer terhadap Iran.
Pemerintah AS juga disebut telah menyiapkan berbagai kemungkinan terburuk, termasuk skenario serangan balasan Iran terhadap aset militer Amerika di kawasan, seperti pangkalan Al Udeid di Qatar maupun pasukan AS yang ditempatkan di Irak dan Suriah.

Sejak akhir Desember 2025, Iran dilanda gelombang protes besar-besaran. Media pemerintah melaporkan sejumlah fasilitas umum dan pertokoan rusak serta terbakar akibat aksi demonstrasi tersebut.
Berdasarkan laporan media internasional dan lembaga pemantau hak asasi manusia, jumlah korban tewas selama aksi protes berlangsung telah melampaui 2.600 orang. Intelijen Israel bahkan memperkirakan angka kematian mencapai sekitar 5.000 jiwa, sementara media Iran International yang berbasis di Inggris menyebut korban bisa menembus lebih dari 12.000 orang.
Para demonstran turun ke jalan untuk memprotes lonjakan inflasi dan menuntut pengunduran diri pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, pemerintah Iran dilaporkan merespons aksi massa dengan penggunaan kekuatan berlebihan, termasuk memutus akses internet secara nasional.
Ayatollah Ali Khamenei menuding demonstrasi tersebut dipicu oleh campur tangan Amerika Serikat. Sebaliknya, Presiden Donald Trump terus menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melakukan perlawanan dan merebut kebebasan mereka. Trump juga menegaskan kesiapannya menyerang Iran jika kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut.







