Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung

DetikPulsa – Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan balita berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia setelah diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran. Rekaman tersebut salah satunya dibagikan oleh akun Instagram @kabarungaran, yang menyebutkan bahwa insiden terjadi saat rombongan berada di kawasan Puncak Bondolan.

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung
Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung

Dalam keterangan unggahan, dijelaskan bahwa anak tersebut mengalami penurunan suhu tubuh setelah terpapar hujan di area puncak.

“Kronologi singkat, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian hingga mencapai puncak Bondolan. Namun saat berada di puncak, korban dan rombongan mengalami hujan sehingga suhu tubuh balita menurun dan menunjukkan gejala hipotermia,” tulis keterangan unggahan tersebut, Senin (13/4/2026).

Dalam video yang beredar, balita tersebut terlihat menangis histeris saat kondisi tubuhnya mulai melemah akibat suhu dingin. Petugas SAR yang berada di lokasi segera memberikan penanganan awal dengan menyelimuti korban menggunakan emergency blanket guna menghangatkan tubuhnya.

Setelah itu, petugas juga berusaha menenangkan kondisi anak tersebut sebelum akhirnya melakukan evakuasi. Balita tersebut kemudian digendong oleh tim SAR untuk dibawa turun dari gunung menuju lokasi yang lebih aman.

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung
Gunung Ungaran

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa kondisi korban saat ini sudah membaik dan telah kembali ke rumah bersama orang tuanya.

“Posisi balita sudah turun dari Basecamp Perantunan, sudah dibawa pulang orang tuanya dalam kondisi selamat. Balita perempuan usia 1,5 tahun,” ujar Bergas saat dikonfirmasi, Senin (13/4).

Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada Sabtu (11/4), ketika balita berinisial L bersama kedua orang tuanya melakukan pendakian hingga mencapai Puncak Bondolan sekitar pukul 14.00 WIB.

“Peristiwa ini terjadi ketika satu keluarga ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian dan tiba di puncak sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, cuaca yang tiba-tiba memburuk disertai hujan deras menyebabkan suhu tubuh balita tersebut menurun drastis hingga mengalami gejala hipotermia,” jelasnya.

Saat kejadian berlangsung, balita tersebut terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan ekstrem. Tim SAR yang sedang bersiaga langsung menuju lokasi untuk memberikan pertolongan pertama.

“Tim SAR dari Basarnas yang sedang melaksanakan siaga khusus langsung bergerak cepat menuju lokasi di kawasan puncak Bondolan. Petugas segera melakukan penanganan awal untuk menstabilkan suhu tubuh korban, termasuk menghangatkan tubuh dan memberikan pertolongan pertama pada kondisi hipotermia,” lanjut Bergas.

Heboh Bayi 18 Bulan Kena Hipotermia, Dibawa Ortu Naik Gunung
Bayi 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran

Setelah kondisi korban dinyatakan lebih stabil, tim SAR gabungan kemudian mengevakuasi keluarga tersebut menuju Basecamp Perantunan untuk penanganan lanjutan.

“Setelah kondisi korban mulai stabil, tim SAR gabungan mengevakuasi balita bersama orang tuanya menuju Basecamp Perantunan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” tambahnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Bergas mengingatkan bahwa aktivitas pendakian memerlukan persiapan matang, baik dari segi fisik, mental, maupun perlengkapan pendukung. Ia juga menegaskan bahwa kelompok rentan seperti balita tidak disarankan untuk mengikuti kegiatan tersebut karena memiliki risiko tinggi.

“Pada prinsipnya kegiatan hiking ke gunung atau naik gunung adalah aktivitas yang membutuhkan kesiapan menyeluruh, sehingga tidak diperuntukkan bagi kelompok rentan seperti balita,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa diperlukan kesadaran bersama, baik dari masyarakat maupun petugas, untuk saling mengingatkan agar tidak membawa kelompok rentan dalam kegiatan berisiko tinggi.

“Butuh kesadaran berbagai pihak, dari warga dan petugas, untuk mengingatkan atau melarang mengajak kelompok rentan untuk kegiatan tersebut karena berpotensi menimbulkan bahaya serius hingga risiko fatal,” pungkasnya.

Share: