DetikPulsa – Fenomena Sinkhole Raksasa, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) wilayah Sumatera Barat menilai perlu adanya keterlibatan tim geolistrik untuk melakukan pengukuran dan kajian lanjutan terkait fenomena sinkhole yang muncul di Kabupaten Limapuluh Kota.

Fenomena Sinkhole Raksasa di Sumbar Sedalam 5 meter
“Kami membutuhkan tim geolistrik untuk melakukan pengukuran atau memperkirakan kondisi yang terjadi di bawah permukaan tanah,” ujar Ketua IAGI Sumatera Barat, Dian Hadiyansyah, di Padang, Selasa (6/1).
Menurut Dian, keberadaan tim geolistrik penting untuk memastikan faktor pemicu munculnya lubang tersebut sekaligus memetakan potensi risiko lanjutan yang mungkin terjadi di area sekitarnya. Hingga kini, penyebab pasti terbentuknya lubang dengan diameter sekitar 10 meter dan kedalaman lebih dari lima meter itu masih belum dapat dipastikan.
Peristiwa sinkhole atau amblesan tanah secara tiba-tiba tersebut terjadi di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.
Sambil menunggu kemungkinan kehadiran tim geolistrik yang dapat diturunkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Geologi, atau lembaga terkait lainnya, Dian mengimbau warga untuk tidak mendekati lokasi kejadian.

Salah satu kekhawatiran utama IAGI adalah kondisi permukaan tanah di sekitar lubang yang dinilai sudah rapuh. Jika area tersebut merupakan kawasan bukit kapur atau batu gamping, risiko runtuhan akan semakin besar karena jenis batuan ini mudah larut oleh air.
“Kami mengkhawatirkan bagian atasnya sudah tidak stabil dan rawan runtuh, sehingga bisa memicu amblesan baru. Karena itu masyarakat diimbau tidak mendekat, apalagi berkerumun di sekitar lokasi,” jelas Dian.
Ia menambahkan, fenomena seperti yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota tergolong lazim di wilayah dengan karakter bukit kapur. Sebagai perbandingan, Dian menyinggung kejadian aliran air yang tiba-tiba menghilang di kawasan Indarung, Kota Padang.
“Di daerah Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, cukup sering terjadi aliran air yang mendadak hilang lalu muncul mata air baru di lokasi lain,” tuturnya.
Sebelumnya, lubang berukuran besar tersebut dilaporkan muncul secara mendadak di area permukiman, sehingga menimbulkan kepanikan di kalangan warga yang mempertanyakan penyebab kejadian tersebut.
Sementara itu, Ahli Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menjelaskan bahwa peristiwa sinkhole merupakan kejadian yang relatif sering terjadi, terutama di kawasan dengan dominasi batuan kapur.

“Fenomena sinkhole ini sebenarnya cukup umum, khususnya di wilayah perbukitan kapur,” ujar Ade, Minggu (4/1).
Ia menerangkan bahwa Nagari Situjuah berada di kawasan batu kapur yang tertutup oleh material hasil erupsi Gunung Sago, sehingga keberadaan batuan kapur tersebut tidak tampak jelas di permukaan. Kondisi tanah yang subur membuat wilayah ini banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian.
Menurut Ade, karakter batuan kapur yang mudah larut ketika terkena air hujan dapat memicu terbentuknya rongga bawah tanah. Seiring waktu, rongga tersebut dapat melebar dan menyebabkan tanah di atasnya runtuh hingga membentuk lubang besar yang dikenal sebagai sinkhole.
Ia juga menegaskan bahwa kemunculan lubang besar secara tiba-tiba tidak hanya terjadi di Nagari Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota. Kejadian serupa pernah dilaporkan di wilayah Kamang, Kabupaten Agam, yang juga dikenal sebagai kawasan dengan dominasi batu kapur.







