DetikPulsa – AS-Israel, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran yang menyasar fasilitas di Universitas Teknologi Sharif, Teheran, Iran, pada Senin (6/4). Serangan tersebut dilaporkan menghantam area masjid serta stasiun pengisian bahan bakar di lingkungan kampus.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/02/28/041c5ab45d6f7d5b6b4394c16234686a-TOPSHOT_BAHRAIN_IRAN_ISRAEL_US_CONFLICT_136526590.jpg)
AS-Israel Serang Masjid dan Lebih dari 30 Kampus Milik Iran
Media semi-pemerintah Iran, Tasnim News Agency, menyebutkan bahwa insiden itu memicu kebakaran hebat yang melanda kedua fasilitas tersebut, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Sejumlah gambar yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi bagian dalam masjid yang rusak parah dengan puing-puing berserakan di berbagai sudut bangunan.
Keterangan dalam unggahan berbahasa Farsi menyebutkan bahwa foto tersebut menunjukkan kondisi masjid Universitas Sharif usai menjadi sasaran serangan.

Sejak operasi militer diluncurkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari, lebih dari 30 kampus dilaporkan mengalami kerusakan.
Menteri Sains Iran, Hossein Simaei Sarraf, menyatakan bahwa institusi pendidikan tinggi memang menjadi target yang disengaja dalam rangkaian serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa puluhan universitas telah terdampak secara langsung hingga saat ini.
Sebelumnya, serangan juga diarahkan ke Universitas Shahid Beheshti di wilayah utara Teheran, yang dikenal sebagai salah satu pusat riset penting di negara tersebut. Pada periode yang sama, Institut Riset Laser dan Plasma turut menjadi sasaran pemboman.

Sarraf menilai bahwa penyerangan terhadap lembaga pendidikan dan pusat penelitian berpotensi menghambat perkembangan ilmu pengetahuan secara signifikan. Ia bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai upaya yang dapat mengembalikan peradaban ke masa yang jauh tertinggal.
Israel disebut menargetkan berbagai fasilitas penelitian yang berkaitan dengan pengembangan nuklir dan persenjataan Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan strategis negara tersebut. Selain itu, Sarraf juga mengungkap bahwa ilmuwan serta tenaga akademik turut menjadi sasaran dalam konflik ini.
Dalam konflik sebelumnya yang dikenal sebagai Perang 12 Hari, sejumlah pakar dilaporkan tewas akibat serangan yang melibatkan kedua negara tersebut.







