DetikPulsa – Iran Segera Kerahkan 1 Senjata Ampuh, Iran dilaporkan tengah menyiapkan langkah balasan setelah serangan Israel dan Amerika Serikat yang disebut melumpuhkan sebagian kemampuan militernya dalam operasi Epic Fury. Balasan tersebut diyakini tidak hanya berbentuk serangan fisik, melainkan juga melalui dunia digital.

Iran Segera Kerahkan 1 Senjata Ampuh Buat Kalahkan AS-Israel
Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, Anomali, dalam analisisnya menyebut Iran kemungkinan besar akan mengandalkan serangan siber sebagai strategi utama. Negara tersebut diperkirakan akan memanfaatkan wiper malware untuk menyerang sistem digital milik lawan.
Menurut laporan Anomali, Iran diduga telah mengerahkan dua kelompok peretas yang dikenal dengan nama APT42 dan APT33. Kedua kelompok ini memiliki kaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) serta Kementerian Intelijen Iran atau Ministry of Intelligence of Iran (MOIS), yang juga dikenal sebagai MuddyWater.
Mengutip laporan Euronews pada Senin (2/3), kelompok tersebut diperkirakan akan menargetkan jaringan pertahanan, lembaga pemerintahan, hingga sistem intelijen milik Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang. Prediksi serupa juga disampaikan oleh perusahaan keamanan siber lainnya, SentinelOne.

Anomali menilai salah satu metode yang kemungkinan digunakan adalah penyebaran wiper malware. Perangkat lunak berbahaya ini dirancang untuk menghapus data secara permanen serta merusak sistem komputer hingga tidak dapat digunakan.
Selain itu, Iran juga dikenal sering melancarkan serangan distributed denial-of-service atau DDoS. Serangan ini bertujuan mengganggu layanan internet dengan membanjiri server target hingga tidak mampu melayani pengguna.
Tak hanya itu, kampanye disinformasi juga kerap digunakan untuk memengaruhi opini publik. Informasi yang disebarkan biasanya berkaitan dengan dugaan kegagalan operasi militer, dampak konflik terhadap warga sipil, hingga narasi tertentu yang menguntungkan pihak Iran.
Tema yang muncul dalam kampanye semacam ini dapat berupa tuduhan kejahatan perang terhadap Israel, laporan mengenai kerugian militer yang dialami Israel dan Amerika Serikat, hingga klaim mengenai keberhasilan serangan siber balasan yang belum tentu benar.
Meski beberapa analis, termasuk perusahaan keamanan siber Sophos, menilai kemampuan kelompok peretas Iran terkadang dilebih-lebihkan, mereka tetap dianggap memiliki kapasitas yang cukup kuat. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, kelompok tersebut pernah menargetkan infrastruktur penting serta sektor keuangan selain sistem pemerintahan.
Pada tahun lalu, otoritas Israel sempat menyatakan bahwa kelompok pro-Iran menyebarkan pesan teks palsu yang menyamar sebagai Israel Defense Forces atau IDF. Pesan tersebut memperingatkan adanya serangan yang akan datang dan meminta warga menuju tempat perlindungan bom.

Di sisi lain, Israel juga memiliki pertahanan siber yang sangat kuat. Salah satu unit yang terkenal adalah Unit 8200, satuan elite siber milik IDF yang bekerja sama dengan kepolisian Israel dan badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency atau NSA.
Unit tersebut diyakini terlibat dalam sejumlah operasi siber besar, termasuk pengembangan virus komputer Stuxnet pada awal 2010-an.
Stuxnet dikenal sebagai malware yang dirancang untuk merusak centrifuge, yaitu komponen penting dalam proses pengayaan uranium. Virus tersebut menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz, salah satu lokasi yang baru-baru ini juga menjadi target serangan rudal Israel.
Iran sendiri pernah menuduh Israel memanfaatkan aplikasi pesan populer WhatsApp untuk melakukan aktivitas pengintaian terhadap warganya dan mengumpulkan informasi selama konflik 12 hari yang terjadi tahun lalu.
Otoritas Iran bahkan sempat meminta masyarakat menghapus aplikasi tersebut dari ponsel mereka selama konflik berlangsung. Tuduhan tersebut kemudian dibantah oleh Meta Platforms sebagai perusahaan induk WhatsApp.
Menurut laporan The Guardian, ini bukan pertama kalinya Israel dikaitkan dengan penggunaan perangkat lunak pengintai. Unit 8200 juga disebut pernah memanfaatkan teknologi Microsoft untuk menyimpan rekaman percakapan telepon warga Palestina.
Selain itu, ada pula kelompok yang menentang Iran dan diduga terlibat dalam berbagai serangan siber terhadap negara tersebut. Salah satunya adalah kelompok Gonjeshke Darande atau yang dikenal dengan nama Predatory Sparrow.
Kelompok ini pernah mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah, salah satu bank terbesar di Iran, saat eskalasi konflik selama 12 hari tahun lalu.
Mereka juga mengaku berada di balik sejumlah serangan lain, termasuk serangan terhadap pabrik baja Iran pada 2022 serta gangguan terhadap jaringan pom bensin pada 2023.







