DetikPulsa – Rudal Balistik, Korea Utara menembakkan sekitar 10 rudal balistik yang belum teridentifikasi ke arah Laut Jepang pada Sabtu (14/3). Peluncuran tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Pyongyang memperingatkan akan adanya “konsekuensi mengerikan” terkait latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.

10 Rudal Balistik Milik Korea Utara Guncang Laut Jepang
Militer Korea Selatan menyebut peluncuran itu terdeteksi dari wilayah Sunan, Korea Utara, pada siang hari waktu setempat.
“Militer Seoul mendeteksi sekitar sepuluh rudal balistik tak dikenal yang diluncurkan dari wilayah Sunan di Korea Utara menuju Laut Timur sekitar pukul 13.20 waktu setempat (04.20 GMT),” ujar Kepala Staf Gabungan Korea Selatan atau Joint Chiefs of Staff South Korea dalam pernyataan resminya.
Jepang juga mengonfirmasi informasi tersebut. Kementerian Pertahanan Jepang menyampaikan melalui akun resminya di platform X bahwa objek yang diluncurkan kemungkinan merupakan rudal balistik dari Korea Utara.
Pengumuman ini muncul beberapa jam setelah Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akan menjadi langkah yang positif.

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat memimpin berbagai upaya internasional untuk menghentikan program nuklir Korea Utara. Beragam pendekatan telah ditempuh, mulai dari pertemuan tingkat tinggi, penerapan sanksi, hingga tekanan diplomatik. Namun, berbagai langkah tersebut dinilai belum memberikan hasil yang signifikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump disebut berupaya membuka kembali dialog tingkat tinggi dengan Pyongyang. Salah satu opsi yang dibahas adalah kemungkinan pertemuan puncak dengan Kim Jong Un pada tahun ini, yang berpotensi berlangsung saat kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang.
Kim Min-seok, yang sebelumnya bertemu Trump di Washington DC, mengatakan bahwa Presiden AS tersebut menyampaikan keinginannya untuk bertemu Kim Jong Un. Ia bahkan menilai pertemuan itu berpeluang terjadi selama rangkaian kunjungan ke Beijing yang dijadwalkan dimulai pada akhir Maret.
Sebelumnya, saat melakukan perjalanan ke Asia pada Oktober lalu, Trump juga menyatakan dirinya “100 persen” terbuka untuk bertemu Kim Jong Un. Namun, pernyataan tersebut kala itu tidak mendapat tanggapan dari pihak Korea Utara.
Setelah cukup lama tidak merespons pendekatan Washington, Kim Jong Un belakangan menyebut bahwa kedua negara dapat “hidup berdampingan dengan baik” jika Amerika Serikat bersedia mengakui status nuklir Pyongyang.

Ketegangan di kawasan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Bulan lalu, Kim Jong Un menegaskan bahwa Korea Utara tidak lagi memiliki kepentingan untuk berurusan dengan Korea Selatan.
Ia bahkan menyebut Seoul sebagai entitas yang paling bermusuhan dan menegaskan bahwa Korea Selatan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari satu bangsa.
Sementara itu, Korea Selatan bersama Amerika Serikat pada Senin lalu memulai latihan militer musim semi bertajuk Freedom Shield. Latihan tersebut melibatkan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan dan dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret.
Korea Utara yang memiliki persenjataan nuklir sejak lama menilai latihan militer gabungan tersebut sebagai simulasi invasi terhadap wilayahnya.
Awal pekan ini, adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, juga mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa latihan militer tersebut berpotensi memicu dampak serius yang tidak terbayangkan.
Menurutnya, latihan itu berlangsung di tengah situasi keamanan global yang semakin tidak stabil, dengan berbagai konflik yang terjadi di sejumlah wilayah dunia.
Kim Yo Jong menilai kondisi tersebut dipicu oleh tindakan para “perusuh internasional” yang dinilainya bertindak secara ceroboh.
Selain itu, Pyongyang juga mengecam serangan yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Korea Utara menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk agresi ilegal dan menuduh Washington sebagai negara yang kerap memicu konflik di tingkat global.







