DetikPulsa – Film Thriller Indonesia, Industri Perfilman Indonesia belakangan memang ramai lewat film horor. Namun, genre thriller lokal juga tak kalah menggigit dan mampu memacu adrenalin penonton.

10 Film Thriller Indonesia yang Sukses Bikin Deg-Degan
Mulai dari kisah obsesi yang menyesakkan hingga kisah misteri kelam di wilayah perbatasan, para sineas Tanah Air berhasil memainkan psikologi serta tensi dengan sangat matang.
Buat kamu yang ingin sensasi tegang tanpa harus selalu berurusan dengan hantu, berikut 10 film thriller Indonesia yang bisa bikin jantung berdegup kencang dari awal sampai akhir. Siapkan mental sebelum menontonnya.
1. Fiksi (2008)
Film debut Mouly Surya ini kerap disebut sebagai salah satu tonggak penting thriller psikologis Indonesia. Ceritanya berpusat pada Alisha (Ladya Cheryl), perempuan kaya yang hidup dalam kesepian dan dibayangi trauma masa lalu. Hidupnya berubah ketika ia bertemu Bari (Donny Alamsyah), seorang pria sederhana yang kemudian menjadi pusat obsesinya.
Hal paling mengganggu dari film ini adalah cara Alisha berusaha mengaburkan batas antara cerita fiksi dan realitas. Demi mewujudkan kisah yang ditulis Bari, ia rela memanipulasi keadaan hingga melakukan tindakan ekstrem yang perlahan mengarah pada kehancuran.
2. Pintu Terlarang (2009)
Nama Joko Anwar selalu identik dengan thriller psikologis yang gelap dan penuh lapisan. Pintu Terlarang mengikuti kehidupan Gambir (Fachri Albar), seorang pematung sukses dengan rumah dan kehidupan yang tampak sempurna. Namun, di balik itu semua, tersimpan rahasia mengerikan yang berkaitan dengan pintu merah terlarang yang dilarang keras dibuka oleh istrinya, Talyda (Marsha Timothy).
Film ini membawa penonton menyusuri lorong pikiran yang kelam dan sarat simbol. Penemuan pesan-pesan misterius dari seorang anak kecil menjadi titik awal cerita bergerak ke arah yang semakin tak terduga.

3. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
Sering disebut sebagai western versi Indonesia, film ini mengambil latar sabana Sumba yang indah namun sunyi. Marlina (Marsha Timothy), seorang janda, harus menghadapi sekelompok perampok yang masuk ke rumahnya. Alih-alih pasrah, ia memilih melawan dengan cara yang dingin dan berani.
Ketegangan dibangun perlahan melalui empat babak cerita yang terstruktur rapi. Perjalanan Marlina membawa kepala perampok ke kantor polisi menjadi simbol kekuatan sekaligus luka batin yang ia tanggung. Visual yang kuat berpadu dengan nuansa thriller yang elegan membuat film ini sangat berkesan.
4. Membabi Buta (2017)
Prisia Nasution memerankan Mariatin, seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah dua kakak-beradik lanjut usia, Sundari dan Sulasmi. Pada awalnya, semuanya tampak wajar. Namun, suasana berubah ketika Mariatin mulai merasakan kejanggalan, termasuk aturan-aturan aneh yang melarangnya bertanya terlalu banyak.
Ketegangan memuncak ketika jeritan misterius terdengar di malam hari. Terinspirasi dari kisah nyata, film ini membangun rasa takut melalui ruang sempit dan rahasia yang tersembunyi di balik dinding rumah tua.
5. Perempuan Tanah Jahanam (2019)
Lewat film ini, Joko Anwar memadukan unsur folk horror dengan thriller yang intens. Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) pergi ke desa asal Maya dengan harapan mendapatkan warisan. Namun, kedatangan mereka justru disambut sikap bermusuhan dari warga desa yang menyimpan dendam lama.
Sejak menit awal, film ini menghadirkan suasana yang terasa tidak nyaman. Kejar-kejaran di hutan, rahasia tentang bayi tanpa kulit, dan rasa terasing di wilayah terpencil membuat ketegangan terasa sangat nyata.
6. Kucumbu Tubuh Indahku (2019)
Meski sering dipandang sebagai film drama artistik, karya Garin Nugroho ini menyimpan elemen thriller psikologis yang kuat. Ceritanya mengikuti Juno, penari Lengger yang sejak kecil dihadapkan pada kekerasan dan trauma mendalam yang terus membentuk jati dirinya.
Ketegangan muncul dari konflik batin, tekanan sosial, dan kekerasan simbolik yang dialami tokohnya. Film ini menghadirkan rasa tidak nyaman secara emosional lewat visual dan metafora tentang tubuh, kuasa, serta identitas.

7. Penyalin Cahaya (2021)
Film ini mengangkat isu sensitif tentang kekerasan seksual dalam balutan misteri yang cerdas. Sur (Shenina Cinnamon) kehilangan beasiswanya setelah foto-foto dirinya tersebar usai sebuah pesta. Merasa ada kejanggalan, ia mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi bersama sahabatnya, Amin (Chicco Kurniawan).
Penonton diajak ikut menyusun potongan demi potongan kebenaran. Ketegangan meningkat saat Sur menyadari bahwa pelaku berada di lingkar kekuasaan yang sulit disentuh, memperlihatkan bahwa ancaman sering datang dari lingkungan terdekat.
8. Autobiography (2022)
Film ini membuktikan bahwa cerita dengan tempo lambat bisa terasa sangat mencekam. Fokusnya ada pada hubungan Rakib (Kevin Ardilova), penjaga rumah, dengan Purna (Arswendy Bening Swara), pensiunan jenderal yang disegani. Kekaguman Rakib perlahan berubah menjadi ketakutan ketika sisi gelap sang majikan mulai terlihat.
Ancaman muncul bukan lewat aksi brutal, melainkan dominasi psikologis yang terus menekan. Sosok Purna yang tenang namun intimidatif menciptakan atmosfer berat sepanjang film.
9. Sleep Call (2023)
Dina (Laura Basuki) bekerja di perusahaan pinjaman online dan menjalani hidup yang dipenuhi kesepian. Untuk mengusir rasa hampa, ia menjalin kebiasaan sleep call dengan Rama (Bio One), pria asing yang awalnya memberi rasa nyaman. Namun, hubungan tersebut perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Film ini menyoroti isu kesehatan mental dan fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan modern. Alur penuh kejutan serta permainan antara realitas dan halusinasi membuat penonton terus bertanya-tanya hingga akhir.
10. Kabut Berduri (2024)
Sebagai penutup, ada film crime-thriller berlatar perbatasan Kalimantan. Detektif Sanja (Putri Marino) ditugaskan mengusut kasus pembunuhan berantai yang brutal. Selain medan hutan yang berat, ia juga harus berhadapan dengan trauma pribadi dan jaringan konspirasi yang rumit.
Kabut yang menyelimuti hutan seolah menjadi elemen hidup yang menyimpan banyak rahasia. Perpaduan investigasi kriminal, sentuhan mistis lokal, dan isu sosial menjadikan film ini terasa intens dan menegangkan sepanjang cerita.







